Konstelasi Rasionalitas Tradisional Dalam Teori Tindakan Sosial Max Weber
AHMAD ZIDAN AL BARKA
TEORI SOSIOLOGI MODERN B
PRODI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA
UIN SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
Pada blog “wong ndalan” ini, penulis senantiasa mengutarakan teori-teori dari tokoh sosiologi beserta contohnya dalam fakta sosial yang dialami oleh penulis. Kajian teoritis dari beberapa tokoh sosiolog akan tayang pada blog ini di setiap minggu sekali guna mengembangkan sayap penulis terhadap dunia Sosiologi. Mata kuliah Teori Sosiologi Modern yang di ampu oleh Pak B.J Soejibto merupakan landasan pacu bagi penulis guna mendapatkan jam terbang yang lebih banyak dalam dunia penulisan.
Pada paragraf pertama, penulis mencoba mengajak berkenalan
dengan tokoh sosiolog tersohor dari Jerman yaitu Max Weber, penulis mencoba
menyajikan dengan sinoptik tentang biografi serta karya dari tokoh sosiolog
tersohor ini.
Max Weber merupakan tokoh sosiologi
ternama yang berasal dari Jerman. Lahir di Erfurt Jerman pada tanggal 21 April
1864. Weber terlahir dari keluarga borjuis yang sangat kaya dan terpandang pada
masanya. Ayahnya menempati posisi politik penting dan ibunya penganut Calvinis
yang taat. Weber mempelopori pelajaran sosiologi, hukum, sejarah dan ekonomi
pada Universitas Heidelberg, Universitas Goettingen, Universitas Berlin dan
Universitas Freiburg. Dan pada tahun 1896 weber telah mendapatkan gelar
Profesor ekonomi, namun ketika weber sedang berada pada puncak karir, ayahnya
meninggal dunia sehingga membuat weber depresi berat. Buku dengan judul Etika Protetestan dan Semangat Kapitalisme merupakan
salah satu karya ternama Weber dalam konsistensi pemikiran tesis weber, karya
ini merupakan impresi pengaruh dari ibunya yang merupakan seorang Protestan Calvinisme
yang taat. Sebelum datangnya eksistensi Weber ke dalam dunia sosiologi, obyek
kajian sosiologi adalah masyarakat, setelah itu barulah obyek kajian sosiologi
berinovasi menjadi tindakan individu terhadap individu lain. Disinilah
pentingnya posisi pemikiran Weber dalam sosiologi dalam merubah paradigma
sosiologi yang semula makro menjadi mikro. Selain itu Weber juga mempelopori
salah satu paradigma dalam kajian sosiologi yaitu “Definisi Sosial”.
Mengenal Max Weber tentu tidak
paripurna jika kita tidak mengenal kajian teorinya, penulis mencoba
mengutarakan teori Tindakan Sosial Max Weber melalui jurnal yang berjudul Max
Weber yang ditulis oleh M Chairul Basrun Umanailo dari Universitas Iqra Buru.
Dalam jurnal tersebut menjelaskan bahwa tindakan sosial merupakan tindakan
individu yang mempunyai makna atau arti subyektif bagi dirinya dan diarahkan
kepada tindakan orang lain. Sebaliknya, tindakan individu yang diarahkan kepada
benda mati atau obyek fisik semata tanpa dihubungkan dengan tindakan orang lain
bukan suatu tindakan sosial. Dengan pemahaman tersebut, penulis dari pemilik
blog “wong dalan” ini mencoba memahami pengertian dan definisi tindakan sosial
yang dikutip dari jurnal tersebut. Menurut pemahaman penulis, tindakan sosial
merupakan tindakan individu yang tertuju terhadap individu lain yang dimana
tindakan itu memiliki makna dan arti, atau singkatnya tindakan sosial adalah
tindakan individu yang berdampak terhadap individu lain. Prinsip dari tindakan
sosial adalah tertuju pada orang lain, berdampak terhadap orang lain dan memiliki
makna terhadap orang lain. Dalam ranah psikologi, tindakan sosial menjadi
minoritas untuk dipelajari dibandingkan dengan tindakan individu, karena
tindakan sosial lebih berimplikasi kepada individu lain, sedangkan tindakan
individu hanya berimplikasi terhadap individu itu sendiri.
Beranjak dari tindakan sosial yang
menurut Max Weber selalu dilandasi dengan 5 bentuk rasionalitas yaitu,
Rasionalitas Formal, Rasionalitas Instrumental, Rasionalitas Nilai, Rasionalitas
Tradisional dan Rasionalitas Afektif, menurut penulis rasionaliotas tradisional
merupakan rasionalitas yang paling dominan terhadap kehidupan sehari-hari
penulis, sebab penulis berasal dari kompleks masyarakat islam jawa (kejawen)
yang sarat dengan budaya, adat, serta mungkin beberapa mistik spiritual yang
bersifat subjektif.
Penulis mengambil satu contoh sebuah tradisi bernama “Nyadran”
yang telah berlangsung selama bertahun-tahun di desa penulis dan telah ber-akulturasi
terhadap budaya jawa-islam. Masyrakat di desa penulis melandasi kegiatan ini
karena sudah dilakukan secara turun-temurun dan dilakukan tanpa refleksi sadar
yang terencana. Tradisi ini adalah bentuk implementasi yang didasarkan pada
rasionalitas tradisional. Penulis juga menyadari bahwa kegiatan Nyadran adalah bentuk
difusi tindakan sosial yang juga didasarkan pada rasionalitas nilai, karena
tradisi Nyadran bertujuan untuk menghormati para leluhur serta mengungkapkan
rasa syukur kepada Tuhan, ini merupakan tindakan sosial yang bernilai agamis
dan spritualitas.
Dalam tradisi ini, tindakan sosial memadukan dua bentuk
gabungan rasionalitas sekaligus. Tindakan dalam tradisi tersebut telah beranjak
dari unsur tradisional menjadi motif nilai religious. Namun dalam kacamata
penulis tindakan sosial dalam tradisi seperti ini lebih menonjolkan
rasionalitas tradisional karena memanifestasikan kriteria yang paling spesifik.
Dalam bahasan selanjutnya penulis akan mengkaji teori-teori
dari tokoh-tokoh sosiologi yang lebih impresif, natikan tulisan selanjutnya
yang akan terbit setiap minggunya.
Jangan lupa untuk selalu berkomentar agar penulis bisa
senantiasa mendengarkan dan merevisi kajian teori dari tokoh sosiologi.
Salam Wong Ndalan !
Daftar Rujukan :
Umanailo, M. C. B. (2019, October). ResearchGate. Max Weber. Jurnal Sosiologi Politik. Hal 1-2. Retrieved
from https://www.researchgate.net/publication/336763591_MAX_WEBER
Azizah, Nur, dkk.(2017). Makalah Tokoh Ilmu Sosial. Makalah.
Retrieved from http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:z3THybIJjKIJ:rosalia.mercubuana-yogya.ac.id/wp-content/uploads/2017/09/Pagi_B_Tokoh-Ilmu-Sosial.doc+&cd=1&hl=id&ct=clnk&gl=id

Komentar
Posting Komentar